SEJARAH

SEJARAH

Berdirinya Politeknik Negeri Bandung (Polban) tidak lepas dari perjalanan pendidikan teknik di Indonesia di masa lampau. Pendidikan Teknik di Indonesia diawali dengan pendidikan di jaman kolonial, yang terdiri atas:

  1. Ambacht School (Sekolah Pertukangan) yang menghasilkan Tukang-Tukang,
  2. Middelbare Technische School (MTS) atau Sekolah Teknik Menengah (STM) yang menghasilkan Calon Pengawas Lapangan,
  3. Technische Hoge School (Sekolah Tinggi Teknik) yang menghasilkan Insinyur.

Setelah kemerdekaan, pendidikan teknik terdiri atas Sekolah Teknik Pertama, Sekolah Teknik Menengah dan Perguruan Tinggi Teknik.

Terjadinya exodus tenaga insinyur Belanda pada tahun 1951 menyebabkan jumlah insinyur di Indonesia sangat sedikit. Departemen Pekerjaan Umum (DPU) pada waktu itu terpaksa mengandalkan tenaga-tenaga lulusan MTS yang walaupun berpengalaman tetapi kemampuannya kurang memadai. Untuk mengatasi keadaan tersebut, terutama kekurangan tenaga di lapangan, timbul pemikiran untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan teknik yang dapat menghasilkan lulusan yang kemampuannya mendekati kemampuan insinyur, namun dapat menyelesaikan studinya dalam waktu yang relatif cepat. Oleh karena itu, pada tahun 1951 DPU mendirikan Lembaga Akademi Pendidikan Teknik (LAPT) di Bandung yang kemudian diubah namanya menjadi Akademik Teknik Pekerjaan Umum dan Tenaga (ATPUT) dengan masa belajar selama 3 tahun.

Kemajuan sains dan teknologi pada waktu itu rupanya lebih banyak menyentuh perguruan tinggi teknik dari pada sekolah menengah teknik sehingga terjadi kesenjangan yang cukup besar antara insinyur tamatan perguruan tinggi dan tenaga kerja tamatan STM. Kondisi ini  memantapkan keberadaan ATPUT karena lulusannya dianggap mampu menjembatani kesenjangan antara tenaga kerja tamatan perguruan tinggi dan tamatan STM.

Namun, karena suatu departemen tidak diizinkan untuk menyelenggarakan lembaga pendidikan, maka sejak tahun 1972 ATPUT diselenggarakan oleh ITB bekerja sama dengan PU, dan ATPUT berubah nama menjadi Lembaga Politeknik Pekerjaan Umum – Institut Teknologi Bandung (LPPU-ITB). Dengan demikian LPPU-ITB adalah lembaga pendidikan pertama yang memakai nama “Politeknik”. LPPU ini hanya menerima karyawan PU sebagai mahasiswa.

Empat tahun kemudian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendirikan pendidikan teknisi yang pertama kali dengan nama Politeknik Mekanik Swiss (PMS-ITB). Politeknik ini hanya menyelenggarakan pendidikan dalam bidang teknologi pekerjaan logam dan teknologi pengecoran logam yang kurikulumnya dibuat sesuai dengan kebutuhan industri. PMS-ITB dianggap sebagai cikal bakal pendidikan politeknik di Indonesia. Dari keberhasilan pendidikan PMS-ITB ditambah langkanya persediaan tanaga sub profesional yang sangat diperlukan industri, pemerintah memutuskan untuk mendirikan lembaga pendidikan sub profesional yang kemudian dikenal sebagai politeknik.

Politeknik didirikan dan dirintis oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1979 melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, No. 03/DJ/Kep/1979, tanggal 27 Januari 1979, tentang Pembukaan Program Pendidikan Diploma dalam Bidang Teknik dan Akuntansi serta Pusat Pengembangan Ahli Teknik.

Pada tanggal 4 Oktober 1985, Direktur Jendral Pendidikan Tinggi meresmikan berdirinya 6 Politeknik yaitu Politeknik USU Medan, Politeknik UNSRI Palembang, Politeknik UI Jakarta, Politeknik ITB Bandung, Politeknik UNDIP Semarang, dan Politeknik UNIBRAW Malang serta Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik (PEDC) Bandung dalam acara Wisuda ke-1 Politeknik ITB.

Politeknik ITB mulai menyelenggarakan programnya pada tahun akademik 1982/1983. Pada mulanya Politeknik ITB baru mempunyai 4 program studi yang dikelola oleh 3 jurusan yaitu:

  1. Jurusan Teknik Sipil
  • Program Studi D-3 Teknik Sipil
  1. Jurusan Teknik Mesin
  • Program Studi D-3 Teknik Mesin
  1. Jurusan Teknik Elektro
  • Program Studi D-3 Teknik Listrik
  • Program Studi D-3 Teknik Elektronika

Untuk memenuhi kebutuhan industri akan tenaga-tenaga yang terampil di bidang tata niaga, pada tahun ajaran 1986/1987 berdiri Jurusan Tata Niaga dengan tiga program studi yaitu Program Studi D-3 Akuntansi, Program Studi D-3 Perbankan, dan Program Studi D-3 Kesekretariatan & Administrasi Perkantoran.  Di tahun yang sama Program Studi D-3 Teknik Telekomunikasi dibuka di bawah Jurusan Teknik Elektro.

Pada tahun akademik 1987/1988, Pendidikan Ahli Teknik Komputer yang berada di ITB dialihkan ke Politeknik ITB menjadi Jurusan Teknik Komputer. Pada tahun yang sama  Program Studi D-3 Teknik Kimia dibuka. Dua program studi di bawah Jurusan Teknik Mesin juga dibuka yaitu Program Studi D-3 Teknik Refrigerasi & Tata Udara dan Program Studi D-3 Teknik Konversi Energi.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0313/O/1991, tanggal 6 Juni 1991 tentang Penataan Politeknik dalam Lingkungan Universitas dan Institusi Negeri, Jurusan Tata Niaga yang telah 6 tahun berdiri dibagi menjadi 2 Jurusan, yaitu Jurusan Akuntansi dan Jurusan Administrasi Niaga. Selain itu, konsentrasi yang ada di Program Studi Teknik Sipil diresmikan menjadi program studi, yaitu Program Studi D-3 Teknik KOnstruksi Sipil dan Program Studi D-3 Teknik Konstruksi Gedung.

Pada tahun akademik 1991/1992, Program Studi D-3 Teknik Aeronautika dibuka di bawah Jurusan Teknik Mesin.

Pada tahun 1997, berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan No. 085/0/1997 Politeknik ITB  menjadi institusi yang mandiri, berpisah dari ITB secara passing out menjadi Politeknik Negeri Bandung (Polban).

Pada tahun 2001 melalui SK Dirjen Dikti No. 45/Dikti/Kep/2001 ditetapkan perubahan nama Program Studi  D-3 Kesekretariatan dan Administrasi Perkantoran menjadi Program Studi D-3 Administrasi Bisnis. Di tahun yang sama, Program Studi D-3 Usaha Perjalanan Wisata di bawah Jurusan Administrasi Niaga dibuka.

Pada Tahun 2004, berdasarkan SK Menteri Pendidikan Nasional No. 162/D/O/2004, dua program studi di bawah Jurusan Teknik Mesin ditingkatkan statusnya menjadi jurusan yaitu Jurusan Teknik Konversi Energi dan Jurusan Teknik Refrigerasi dan Tata Udara. Pada tahun yang sama, Program Studi D-3 Manajemen Pemasaran dibuka.

Pada tahun akademik 2006/2007 Polban menawarkan program studi baru yaitu Program Studi D-3 Bahasa Inggris. Tiga tahun kemudian, Jurusan Teknik Kimia membuka Program Studi D-3 Analis Kimia.

Perkembangan Sains dan Teknologi adalah untuk peningkatan kesejahteraan manusia. Hal ini baru dapat terlaksana apabila hasil dari riset ilmiah dapat diwujudkan menjadi produk yang berguna bagi manusia. Maka dari itu, untuk mengantipasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi era globalisasi, program pendidikan di politeknik harus disesuaikan dan harus dapat menghasilkan lulusan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk mewujudkan hasil riset ilmiah menjadi produk yang nyata. Oleh karena itu, politeknik harus mengembangkan program-program lanjutan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu program diploma empat (D-4) yang menghasilkan insinyur professional.

Mulai tahun 2002, Polban mengembangkan program pendidikan sarjana terapan atau program D-4 dengan lama belajar 4 tahun di bidang Perancangan Jalan dan Jembatan, Teknik Informatika, dan Manajemen Aset. Pengembangan program sarjana terapan ini terus berlanjut. Pada tahun 2006, program sarjana terapan utnuk bidang Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung, Teknik Telekomunikasi Nirkabel, Akuntansi Manajemen Pemerintahan, dan Keuangan Syariah dibuka. Dua tahun kemudian, tahun 2008, Jurusan Teknik Kimia membuka Program Studi D-4 Teknik Kimia Produksi Bersih.

Berturut-turut pada tahun 20019 dan tahun 2010, program sarjana terapan di bidang Teknologi Pembangkit Tenaga Listrik, Teknik Elektronika, Teknik Otomasi Industri, Teknik Perancangan dan Konstruksi Mesin, dan Teknik Pendingin dan Tata Udara ditawarkan kepada masyarakat. Pada tahun 2014, 3 program baru di bidang Proses Manufaktur, Manajemen Pemasaran dan Akuntansi dibuka.

Melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Perguruan Tinggi Penyelenggara Program Studi di Luar Domisili No 241/P/2014, Polban diberi mandat untuk menjalankan program studi pada jenjang diploma dua (D-2) di Kabupaten Pekalongan untuk Program Studi Teknik Mesin, Program Studi Teknik Kimia dan Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak.

Menjalanakan amanat UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 16 bahwa Pendidikan tinggi vokasi dapat dikembangkan sampai program magister terapan atau program dokter terapan. Polban membuka program magister terapan yang pertama pada tahun 2013 yaitu Program Studi Rekayasa Infrastruktur. Tiga tahun kemudian, tahun 2016 program magister terapan Keuangan dan Perbankan Syariah dibuka.

Sampai saat ini, Polban menyelenggarakan 18 program studi jenjang D-3, 18 program studi jenjang D-4 (Sarjana Terapan), 3 program studi jenjang D-2, dan 2 program magister terapan.

Facebook
Facebook
YouTube0
YouTube
Instagram9k
Follow by Email